Sabtu, 29 November 2014

makalah ulumul hadits



COVER

Tugas Makalah
MAKALAH
“TAKHRIJ HADITS”

Dibuat Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah          : ULUMUL HADITS
Dosen Pengampuh          : Dr. Desi Erawati, M. Ag

logo.jpg


Di Susun Oleh:
Nurhidayat Novalis, NIM: 1301140326
Rahmi Hidayat, NIM: 1101140249



STUDI TADRIS BIOLOGI JURUSAN TARBIYAH PROGRAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
2014 M / 1435 H

KATA PENGANTAR

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya, sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah Ulumul Hadits ini tepat pada waktu yang telah disepakati.
Sebelum dan sesudahnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangan tenaga dan pikiran, sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan makalah ini disusun adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ulumul Hadits, dan sebagai bahan belajar untuk kita khususnya dalam menambah wawasan, keterampilan, dan kemahiran dalam berdiskusi dan berbicara didepan orang banyak. Dengan adanya makalah ini kami berharap nantinya agar dapat bermanfaat bagi kta semua.
Kami menyadari dalam penilisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dan masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu kami mengharapkan saran dan masukan kepada semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Pada akhirnya hanya kepada Allah SWT. kami penulis memohon perlindungan dari kesesatan dan kemungkaran, dan semoga usaha yang sekecil ini manfaat dan berkah. Aamiin.
Palangka raya, November 2014


Penyusun



DAFTAR ISI





BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Dalam mempelajari ilmu hadits kita juga perlu mengetahui sejarah hadits, penukilan, penyampaian, kualitas, keadaan dll. Kenapa ? hadits juga merupakan dalil yang bisa dijadikan penyelesaan sebuah masalah, tapi supaya hadits itu dapat kita yakini. Ya, kita harus mengetahui keadaan hadits, kualitas dll. Suatu nasehat dapat kita percayai apabila kita mempercayai orang yang menyampaikannya, kita akan mempercayai oaring yang menyampaikannya kita harus mengetahui dulu tingkah lakunya. sama juga halnya dengan sebuah hadits agar kita mempercayainya, kita terlebih dahulu mengenal siapa yang mengeluarkannya dan bagamana keadaan orang yang mengeluarkanya itu. Mungkin dalam pembahasn kami kali ini menekankan pada cara mengeluarkan hadits baik dengan keadaan perawinya, maupun terhadap kualitas haditsnya, dengan mentakhrij kita dapat mengetahui keadaan hadits dan kualitasnya. Untuk mengetahuinya lebih dalam kita harus menggunakan metode-metode. Seperti : Metode Takhrij Naql, Tashih dan I’tibar. Yang akan dipaparkan dalam bab berikutnya.bukan hanya itu saja, kita juga bisa mengetahui kegunaan dan tujuan dari takhrij hadits.

B.     RUMUSAN MASALAH

a.       Pengertian dari Takhrij Hadis ?
b.      Tujuan dan manfaat Takhrij Hadis ?
c.       Kitab-kitab yang diperlukan ?
d.      Cara pelaksanaan Takhrij Hadis ?



C.    TUJUAN

a.       Mengetahui pengertian Takhrij Hadis.
b.      Mengetahui tujuan dan manfaat Takhrij Hadis.
c.       Mengetahui kitab-kitab yang diperlukan untuk Takhrij Hadis.
d.      Mengetahui pelaksanaan Takhrij Hadis.


BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian Takhrij Hadits

Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna, yang paling mendekati disini adalah berasal dari kata kharaja yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata al-ikhraj yang artinya menampakan dan memperlihatkannya, dan al-makhraj artinya tempat keluar, dan akhraja al-hadits wa kharrajahu artinya menampakan dan memperlihatkan Hadis kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.[1]
Takhrij menurut istilah adalah melanjutkan tempat Hadis pada sumber aslinya yang mengeluarkan Hadis tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.
Takhrij Hadis adalah merupakan bagian dari kegiatan penelitian. Sebelum mengenal pengertian takhrij, ada baiknya juga mengenal terlebih dahulu dua kata lain yang mempunyai kata dasar yang sama dari kata khara-ja, yaitu ikhraj dan istikhraj, yang penggunaannya sedikit berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.[2]
Pengertian takhrij menurut ahli Hadis memiliki tiga (3) macam pengertian, yaitu:
a.       Usaha mencari sanad Hadis yang terdapat dalam kitab Hadis karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. Usaha semacam ini dinamakan juga istikhraj. Misalnya seorang mengambil sebuah Hadis dari kitab Jamius Shahih Muslim, kemudian ia mencari sanad Hadis tersebut yang berbeda dengan sanad yang telah ditettapkan oleh Imam Muslim.
b.      Suatu keterangan bahwa Hadis yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Misalnya, penyusunnya Hadis mengakhiri penulisan Hadisnya dengan kata “akhrajahul Bukhari”, artinya bahwa Hadis yang dinukilkan itu terdapat kitab Jamius Shahih Bukhari. Bila ia mengakhiri dengan kata Akhrajahul Muslim berarti Hadis tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim.
c.       Suatu usaha mencari derajat, sanad, dan rawi Hadis yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengerang suatu kitab. Misalnya, takhrij Alhadisil Kasysyaaf, karyanya Jamaludin Al-Hanafi adalah suatu kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat Hadis yang terdapat dalam kitab Tafsir Al-Kasysyaaf, yang oleh pengarangnya tidak diterangkan derajat Hadisnya, apakah shahih, hasan, atau pun lainnya.[3]

B.   Sejarah Takhrij

Pada mulanya, menurut Thahan, ilmu takhrij al-hadits tidak dibutuhkan oleh para ulama dan penelitian hadits karena pengetahuan mereka tentang sumber hadis ketika itu sangat luas dan baik.[4] Ketika para ulama merasa kesulitan untuk mengetahui sumber dari suatu hadis, yaitu setelah berjalan beberapa periode tentu dan setelah berkembangnya karya-karya ulama dalam bidang fikih, tafsir dan sejarah, yang memuat hadis-hadis Nabi SAW. yang kadang-kadang tidak menyebutkan sumbernya, maka para ulama hadis terdorong untuk melakukan takhrij terhadap karya-karya tersebut.[5]
Pengusaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas sekali, sehinga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu Hadis untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah. Ketika semangat belajar melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat Hadis yang dijadikan sebagai rujukan para penulis dalam ilmu-ilmu syar’i. maka sebagaian dari ulama bangkit dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab As-Sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dhaif, lalu muncullah apa yang dinamakan “kutub takhrij” (buku-buku takhrij).[6]

C.   Tujuan dan Manfaat Takhrij Hadis

Menurut ‘Abd al-Mahdi, yang menjadi tujuan dari takhrij adalah: “menunjukan sumber hadis dan menerangkan ditolak atau diterimanya Hadis tersebutt.” Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu:
a.       Untuk mengetahui sumber dari suatu Hadis, dan
b.      Mengetahui kualitas dari suatu Hadis, apakah dapat diterima (Shahih atau Hasan) atau ditolak (Dhaif).[7]

Sedangkan manfaat takhrij banyak sekali, ‘Abd al-Mahdi menyimpulkan sebanyak dua puluh manfaat, yaitu:
1.      Memperkenalkan sumber-sumber Hadis, kitab-kitab asal dari suatu Hadis beserta Ulama yang meriwayatkannya.
2.      Menembah pembendaharaan sanad Hadis melalui kitab-kitan yang ditunjuknya.
3.      Memperjelas keadaan sanad, sehingga dapat diketahui apakah Munqathi, Mu’dhal, atau lainnya.
4.      Memperjelas hokum Hadis dengan banyaknya riwayatnya, seperti Hadis Dhaif satu riwayat, maka dengan takhrij kemungkinan akan didapati riwayat lain yang dapat mengangkat status Hadis tersebut kepada derajat yang lebih tinggi.
5.      Mengetahui pendapat-pendapat para Ulama sekitar hokum Hadis.
6.      Memperjelas perawi Hadis yang samar, karena adanya takhrij dapat diketahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap.
7.      Memperjelas perawi Hadis yang tidak ditahui namanyamelalui perbandingan diantara sanad-sanadnya.
8.      Dapat menafikan pemakaian “an” dalam periwayatan Hadis oleh seoarang perawi mudallis. Dengan didapatinya sanad yang lain yang memakai kata yang jelas kebersambungan sanad-nya, maka periwayatan yang memakai “an” tadi akan tampak pula kebersambungan sanad-nya.
9.      Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.
10.  Dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karena mungkin saja ada perwi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar.
11.  Dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam suatu sanad.
12.  Dapat memperjelas arti kalimat asing yang terdapat dalam suatu sanad.
13.  Dapat menghilangkan syadz (kesendirian riwayat yang menyalahi riwayat perawi yang lebih tsiqat) yang terdapat pada suatu Hadis melalui perbandingan riwayat.
14.  Dapat membedakan Hadis yang mudraj (yang mengalami penyusupan sasuatu) dari yang lainnya.
15.  Dapat mengungkapkan keragu-raguan dan kekeliruaan yang dialami oleh seorang perawi.
16.  Dapat mengungkapkan hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh seorang perawi.
17.  Dapat membedakan proses periwayatan yang dilakukan dengan lafaz dan yang dilakukan dengan makna saja.
18.  Dapat menjelaskan masa dan tempat  kejadian timbulnya Hadis.
19.  Dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya Hadis melalui perbandingan sanad-sanad yang ada.
20.  Dapat mengungkapkan kemungkinan terjadinya kesalahan cetak melalui perbandingan-perbandingan sanad yang ada.[8]

D.   Kitab-kitab Yang Diperlukan

Dalam melakukan takhrij, seseorang memerlukan kitab-kitab tertentu yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman sehingga dapat melakukan kegiatan takhrij secara mudah dan mencapai sasaran yang dituju. Diantara kitab-kitab yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam meng-takhrij adalah Ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid oleh Muhammad al-Thahan, Hushul al-Tafrij al-bi Ushul al-Takhrij oleh Ahmad ibn Muhammad al-Shiddiq al-Gharami, Thuruq Takhrij Hadis Rasullah saw. karya Abu Muhammad al-Mahdi ibn ‘Abd al-Qadir ibn ‘Abd al-Hadi, Metodologi Penelitian Hadits Nabi tulisan Syuhudi Ismail, dan lain-lain.[9]
Ada beberapa kitab yang diperlukan untuk melakukan takhrij Hadis. Adapun kitab-kitab tersebut antara lain:
1.      Hidayatul bari ila tartibi ahadisil Bukhari
Penyusun kitab ini adalah Abdur Rahman Ambar al-Misri at-Tahtawi. Kitab ini disusun khusus untuk mencari hadis-hadis yang termuat dalam kitab Sahih Bukhari. Lafal-lafal hadis disusun menurut aturan urutan huruf abjad Arab. Namun hadis-hadis yang dikemukakan secara berulang dalam kitab Sahih Bukhari tidak dimuat secara berulang dalam kamus di atas. Dengan demikian perbedaan lafal dalam matan hadis riwayat al-Bukhari tidak dapat diketahui lewat kamus tersebut.[10]
2.      Mu’jam al-Fazi wala siyyama al-Garibu minha fihr litartibi ahadisi sahihi Muslim
Kitab tersebut merupakan salah satu juz, yakni juz ke-V dari kitab Sahih Muslim yang dikutip oleh Muhammad Abdul Baqi. Jus V ini merupakan kamus yang di dalamnya di mulai juz I-V yang berisi:
a.       Daftar urutan judul kitab serta nomor hadis dan juz yang memuatnya.
b.      Daftar nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang termuat dalam kitab Sahih Muslim.
c.       Daftar awal matan hadis dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta diterangkan nomor-nomor hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, bila kebetulan hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri.[11]
3.      Miftahus Sahihain
Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa al-Tauqiah kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan diriwayatkan oleh Muslim. Akan tetapi hadis-hadis yang dimuat dalam kitab ini hanyalah hadis-hadis yang berupa qauliyah saja. Hadis-hadis tersebut disusun menurut abjad dari awal lafal matan hadis.
4.      Al-Bughyatu fi tartibi ahadisi al-hilyah
Kitab ini disusun oleh Said Abdul Aziz bin al-Said Muhammad bin Said Siddiq al-Qammari. Kitab hadis tersebut memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab yang disusun Abu Nuaim al-Asabuni (w.430 H) yang berjudul Hilyatul auliyai wababaqatul asfiyai. Sejenis dengan kitab tersebut adalah kitab Miftahut tartibi li ahadisi tarikhul khatib, yang disusun oleh Said Ahmad bin Said Muhammad bin Said As-Siddiq al-Qammari yang memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab sejarah yang disusun oleh Abu Bakar bin Ali bin Subit bin Ahmad al-Bagdadi yang dikenal dengan al-Khatib al-Bagdadi (w.463 H). Susunan kitabnya diberi judul Tarikhul Bagdadi  yang terdiri atas empat jilid.
5.       Al-Jami’us Sagir
Kitab ini disusun oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti (w. 91 H). Kitab hadis tersebut memuat hadis-hadis yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan hadis yang disusun oleh Imam Suyuti juga yaitu Kitab Jam’ul Jawani. Hadis yang dimuat di dalam kitab jami’us Sagir disusun berdasarkan urutan abjad dari awal lafal matan hadis. Sebagian dari hadis-hadis itu ada yang ditulis secara lengkap dan adapula yang ditulis sebagian-sebagian saja, namun telah mengandung pengertian yang cukup.
Kitab hadis tersebut juga menerangkan nama-nama sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadis yang bersangkutan dan nama-nama mukharijnya. Selain hampir setiap hadis yang dikutip dijelaskan kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujui oleh Imam Suyuti.[12]
6.      Al-mu’jam al-Mufahras li alfazil hadis nabawi
Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Diantara anggota tim yang paling aktif dalam kegiatan proses peyusunan ialah Dr. Arnold John Weinsinck (w.1939 M), seorang profesor bahasa-bahasa semit, termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden, negeri Belanda. Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadis berdasarkan petunjuk lafal matan hadis. Berbagai lafal yang disajikan tidak dibatasi hanya lafal-lafal yang berbeda di tengah dan bagian-bagian lain dari matan hadis. Dengan demikian, kitab Mu’jam mampu memberikan informasi kepada pencari matan dan sanad hadis, asal saja sebagian dari lafal matan yang dicarinya itu telah diketahuinya.
Kitab Mu’jam ini terdiri dari tujuh juz dan dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang terdapat dalam sembilan kitab hadis, yakni: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Turmuzi, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Majjah, Sunan ad-Darimi, Muwatha’ Malik dan Musnad Ahmad.[13]

E.   Cara Pelakasaan dan Metode Takhrij

Didalam melakukan takhrij, ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman, yaitu:


1.      Takhrij melalui lafaz pertama matan Hadis
Metode ini tergantung pada lafaz pertama matan hadis. Hadis-hadis dengan metode ini dikodifikasi berdasarkan lafaz pertamanya menurut urutan huruf-huruf hijaiyah, seperti hadis-hadis yang huruf pertama dan lafaz pertamanya alif, ba’, ta’, dan seterusnya. Seorang mukharrij yang menggunakan ini haruslah terlebih dahulu mengetahui secara pasti lafaz pertama dari hadis yang akan di takhrij­-nya, setelah itu barulah dia melihat huruf pertamanya pada kitab-kitab takhrij yang disusun berdasarkan metode ini, dan huruf kedua, ketiga, dan seterusnya. Seperti contoh jika kita mau men-takhrij hadis yang berbunyi:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى حَدِيْثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِيْنَ

Maka, langkah yang akan ditempuh dalam penerapan ini adalah menentukan urutan huruf-huruf yang terdapat pada lafaz pertamanya, dan begitu juga lafaz-lafaz selanjutnya:
a.       Lafaz pertama dari hadis di atas di mulai dengan huruf mim, maka di buka kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan metode ini pada bab mim.
b.      Kemudian mencari huruf kedua setelah mim, yaitu nuan.
c.       Berikutnya mencari huruf-huruf selanjutnya, yaitu ha, da, dan tsa. Dan demikianlah seterusnya mencari huruf-huruf hijaiyah pada lafaz-lafaz matan hadis tersebut.

Di antara kitab-kitab yang menggunakan metode ini adalah:
a.      Al-Jami’ al-Shaghir min hadis al-Basyir al-Nadzir, karangan al-Suyuthi (w.911 H).
b.      Al-Fath al-Kabir fi Dhamm al-Ziyadat ila al-Jami’ al-Shagir, juga karangan al-Suyuthi.
c.       Jam’al-jawawi’ aw al-Jami’ al-Kabir, juga dikangan oleh al-Suyuthi.
d.      Al-Jami’ al-Azhar min hadis al-Nabi al-Anwar, oleh al-Minawi (w.1031).
e.       Hidayat al-Bari ila Tartib Ahadis al-Bukhari, oleh’Abd al-Rahim ibn ’Anbar al-Thahawi (w.1365).
f.        Mu’jam jami’ al-Ushul fi Ahadis al-Rasul, oleh Imam al-Mubarak ibn Muhammad ibn al-Atsir al-Jazari.[14]

2.      Takhrij menurut lafaz-lafaz yang terdapat didalam matan Hadis
Metode ini adalah berdasarkan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, baik berupa isim atau fiil. Hadis-hadis yang dicantumkan adalah berupa potongan atau bagian dari hadis, dan para ulama yang meriwayatkannya beserta nama kitab-kitab induk hadis yang dikarang mereka, dicantumkan di bawah potongan hadis-hadis tersebut.
Penggunaan metode ini akan lebih mudah manakala menitikberatkan pencarian hadis berdasarkan lafaz-lafaznya yang asing dan jarang penggunaannya. Umpamanya, pencarian hadis berikut:[15]

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ صَلاَةً مِنْ غَيْرِ طَهُوْرٍ , وَلاَ صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ

3.      Takhrij menurut perawi pertama
Metode ini berlandaskan pada perawi pertama suatu hadis, baik perawi tersebut dari kalangan sahabat, bila sanadnya muttashil sampai kepada Nabi saw, atau dari kalangan Tabi’in, apabila hadis tersebut Mursal. Para penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode ini mencantumkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para perawi pertama tersebut. Oleh karenanya, sebagai langkah pertama dalam metode ini adalah mengenal para perawi pertama dari setiap hadis yang hendak di takhrij, dalam kitab-kitab itu, dan selanjutnya mencari hadis dimaksud di antara hadis-hadis yang tertera di bawah nama perawi pertama tersebut.   
Kitab-kitab yang disusun berdasarkan metode ini adalah kitab-kitab al-Athraf dan kitab-kitab Musnad. Kitab al-Athraf adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunnya hanya menyebutkan beberapa kata atau pengertian dari matan hadis, yang dengannya dapat dipahami hadis dimaksud. Sementara dari segi sanad, seluruh sanad-sanadnya dikumpulkan. Di antara kitab-kitab al-Athraf ini adalah: Athraf al-Shahihain, karangan Imam Abu Mas’ud Ibrahim al-Dimasyqi (w.400 H), Athraf al-Kutub al-Sittah, karangan Syams al-Din al-Maqdisi (w. 507 H), dan lainnya.
Adapun kitab Musnad adalah kitab yang disusun berdasarkan perawi teratas, yaitu sahabat, dan memuat hadis-hadis setiap sahabat. Kitab ini menyebutkan seorang sahabat dan di bawah namanya itu dicantumkan hadis-hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw beserta pendapat dan tafsirannya. Suatu kitab musnad tidaklah memuat keseluruhan sahabat, ada diantaranya yang memuat sahabat dalam jumlah besar dan ada yang memuat sahabat-sahabat yang memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu, seperti musnad sahabat yang sedikit riwayatnya, atau musnad sepuluh sahabat yang di jamin masuk syurga, atau bahkan ada musnad yang memuat hadis-hadis dari satu orang sahabat, seperti musnad Abu Bakar.
Hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab Musnad tidak diatur menurut suatu aturan apapun dan tidak memiliki nilai atau kualitas yang sama. Dengan demikian, di dalam musnad terdapat hadis-hadis sahih, hasan, dan dha’if, dan masing-masing tidak terpisah antara yang satu dengan yang lainnya tetapi dikumpulkan menjadi satu. Diantara contoh kitab Musnad tersebut adalah Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.[16]

4.      Takhrij menurut tema Hadis
Metode ini berdasarkan pada tema dari suatu hadis. Oleh karena itu, untuk melakukan takhrij dengan metode ini, perlu terlebih dahulu disimpulkan tema dari suatu hadis yang akan di-takhrij, dan kemudian baru mencarinya melalui tema tersebut pada kitab-kitab yang disusun menggunakan metode ini. Seringkali suatu hadis memiliki lebih dari satu tema. Dalam kasus demikian seorang mukharrij harus mencarinya pada tema-tema yang mungkin di kandung oleh hadis tersebut.
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام، وحسابهم على الله.

Hadis diatas mengandung beberapa tema, yaitu iman, tauhid, salat, dan zakat. Berdasarkan tema-tema tersebut, maka hadis di atas harus dicari di dalam kitab-kitab hadis di bawah tema-tema itu. Dari keterangan ini jelaslah bahwa takhrij dengan metode ini sangat tergantung kepada pengenalan terhadap tema hadis, sehingga apabila tema dari suatu hadis tidak diketahui, maka akan sulitlah untuk melakukan takhrij dengan menggunakan metode ini.[17]

5.      Takhrij menurut klasifikasi (status) Hadis
Metode ini memperkenalkan suatu upaya baru yang telah dilakukan para ulama hadis dalam menyusun hadis-hadis, yaitu penghimpunan hadis berdasarkan statusnya. Karya-karya tersebut sangat membantu sekali dalam proses pencarian hadis berdasarkan statusnya, seperti Hadis-hadis Qudsi, Hadis masyhur, Hadis Mursal, dan lainnya. Seorang peneliti hadis, dengan membuka kitab-kitab seperti diatas, dia telah melakukan takhrij al-Hadis.[18]



BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalh takhrij Hadis ini adalah:
1.      Pengertian takhrij Hadis
Pengertian takhrij menurut ahli Hadis memiliki tiga (3) macam pengertian, yaitu:
a.       Usaha mencari sanad Hadis yang terdapat dalam kitab Hadis karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut.
b.      Suatu keterangan bahwa Hadis yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya.
c.       Suatu usaha mencari derajat, sanad, dan rawi Hadis yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengerang suatu kitab.
2.      Sejarah Takhrij
Pengusaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas sekali, sehinga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu Hadis untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah. Ketika semangat belajar melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat Hadis yang dijadikan sebagai rujukan para penulis dalam ilmu-ilmu syar’i. maka sebagaian dari ulama bangkit dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab As-Sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dhaif, lalu muncullah apa yang dinamakan “kutub takhrij” (buku-buku takhrij).
3.      Tujuan dan manfaat takhrij Hadis
Menurut ‘Abd al-Mahdi, yang menjadi tujuan dari takhrij adalah: “menunjukan sumber hadis dan menerangkan ditolak atau diterimanya Hadis tersebutt.” Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu:
a.       Untuk mengetahui sumber dari suatu Hadis, dan
b.      Mengetahui kualitas dari suatu Hadis, apakah dapat diterima (Shahih atau Hasan) atau ditolak (Dhaif).
Sedangkan manfaat takhrij banyak sekali, ‘Abd al-Mahdi menyimpulkan ada beberapa manfaat diantaranya, yaitu:
a.       Memperkenalkan sumber-sumber Hadis, kitab-kitab asal dari suatu Hadis beserta Ulama yang meriwayatkannya.
b.      Menembah pembendaharaan sanad Hadis melalui kitab-kitan yang ditunjuknya.

4.      Kitab-kitab yang diperlukan dalam meng-takhrij Hadis
Ada beberapa kitab yang diperlukan untuk melakukan takhrij Hadis. Adapun kitab-kitab tersebut antara lain:
a.       Hidayatul bari ila tartibi ahadisil Bukhari
b.      Mu’jam al-Fazi wala siyyama al-Garibu minha fihr litartibi ahadisi sahihi Muslim
c.       Miftahus Sahihain
d.      Al-Bughyatu fi tartibi ahadisi al-hilyah
e.       Al-Jami’us Sagir
f.       Al-mu’jam al-Mufahras li alfazil hadis nabawi
5.      Cara pelaksaan dan metode takhrij Hadis
Didalam melakukan takhrij, ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman, yaitu:
a.       Takhrij melalui lafaz pertama matan Hadis
b.      Takhrij menurut lafaz-lafaz yang terdapat didalam matan Hadis
c.       Takhrij menurut perawi pertama
d.      Takhrij menurut perawi pertama
e.       Takhrij menurut klasifikasi (status) Hadis

B.     SARAN

Demikianlah makalah yang dapat penulis sajikan, penulis menyadari bahwa makalah kami masih banyak kekeliruan, untuk itu penulis membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun demi kebaikan untuk pembuatan makalah selanjutnya dan semoga makalh ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman, Mifdhol, PENGANTAR STUDI ILMU HADITS, Jakarta Timur: PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2004
Ahmad Muhammad, DK, ULUMUL HADIS, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2000
Sahrani, Sohari, ULUMUL HADITS, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010
Yuslem, Nawir, ULUMUL HADIS, Jakarta: PT MUTIARA SUMBER WIDYA, 2001



[1]Mifdhol Abdurrahman, LC, PENGANTAR STUDI ILMU HADITS, Jakarta Timur: PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2004, h. 189
[2]DR.Nawir Yuslem, MA, ULUMUL HADIS, Jakarta: PT MUTIARA SUMBER WIDYA, 2001. h.389
[3]Drs. H. Muhammad Ahmad, DK, ULUMUL HADIS, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2000. h. 131
[4]Sohari Sahrani, ULUMUL HADITS, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. h. 188
[5]Ibid. h. 189
[6]Mifdhol Abdurrahman, LC, PENGANTAR STUDI ILMU HADITS, Jakarta Timur: PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2004, h. 189
[7]DR. Nawir Yuslem, MA, ULUMUL HADIS, Jakarta: PT MUTIARA SUMBER WIDYA, 2001. h. 398
[8]DR. Nawir Yuslem, MA, ULUMUL HADIS, Jakarta: PT MUTIARA SUMBER WIDYA, 2001. h. 400
[9]Sohari Sahrani, ULUMUL HADITS, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. h. 192
[10]Drs. H. Muhammad Ahmad, DK, ULUMUL HADIS, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2000. h. 132
[11]Drs. H. Muhammad Ahmad, DK, ULUMUL HADIS, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2000. h. 133
[12]Drs. H. Muhammad Ahmad, DK, ULUMUL HADIS, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2000. h. 134
[13]Ibid. h. 135
[14]Sohari Sahrani, ULUMUL HADITS, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. h. 194-195
[15]Ibid, h. 196
[16]Sohari Sahrani, ULUMUL HADITS, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. h. 199-200
[17]Ibid, h. 201
[18]Sohari Sahrani, ULUMUL HADITS, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. h. 202

Minggu, 09 November 2014

Realitas Paralel Ilmu modern dan Islam


The Parallel Realities of Modern Science and Islam

"Islamic Science" -- I often encounter this expression when I meet fellow Muslims at social events and I state that I am a scientist during the perfunctory revealing of professions. Not infrequently, my discussion partners start talking about "Islamic Science" with a certain degree of nostalgia and pride, because for them it conjures up the names and works of Muslim scientists such as Ibn Sina (Avicenna) and Al-Biruni (Alberonius) who lived in the 10th and 11th centuries C.E. It is important to realize that they are just two of the most famous representatives of the large scientific enterprise that has flourished in Muslim history.
As shown by Seyyed Hossein Nasr, one of the world's foremost contemporary Muslim philosophers, Muslim scientists have pursued scientific research since the 8th century C.E., covering a vast range of disciplines ranging from astronomy and mineralogy to zoology and the medical sciences. However, the expression "Islamic Science" does not necessarily only refer to the fact that these scientists were Muslims. Instead, as suggested by another leading contemporary Muslim philosopher of science, Osman Bakar, the expression "Islamic Science" characterizes sciences "that were directly based upon and conceptually in harmony with the belief system of Islam."
Nasr and Bakar contrast such "Islamic Science" with the modern science which emanated from Europe in the 17th century C.E. and has since become the dominant force of scientific inquiry in the world. In their view, modern science is nearly exclusively based on a rationalist and materialist view of the world, and therefore does not require that the scientific methodology and interpretation are integrated with any faith-based system. The dominance of modern science resulted in the decline of the more traditional "Islamic Science", because even though numerous Muslims have continued to work as scientists, they no longer try to harmonize their scientific findings with the sacred concepts in traditional Islamic thought. Bakar and Nasr emphasize that modern science is not a value-free approach to knowledge, and that it carries within itself a rejection of the sacred dimension of knowledge. In Nasr's view, modern science has monopolized the concept of science itself, whereas traditionally, science was a much more generalized term (derived from the Latin scientia = knowledge) that permitted the integration of the sacred with scientific concepts. He calls for a restoration of a more comprehensive "sacred science", which would unify the wisdom and knowledge of all faiths with that of scientific inquiry.
I first encountered Nasr's ideas as a university student and became enamored with the possibility of unifying the process of scientific inquiry with faith and spirituality. This was probably a reflection of a basic human desire to integrate and unify knowledge. I had already experienced a similar excitement in the late 80s when fractals and chaos theory were becoming fashionable in popular culture. I still remember that in my German high school, those of us who were science geeks would sit down during recess and talk about the beauty of a Grand Unified Theory of particle physics or how chaos theory would allow us to unite biology, chemistry and physics. We did not have any clue as to what "chaos theory" or the Grand Unified Theory actually entailed, but we were simply enthralled by the idea of unifying and integrating the various sciences with a few basic mathematical equations. So when I read Nasr's books in the 90s, I felt that the "scientia sacra" (sacred science) would allow for an even more comprehensive integration of knowledge.
I grew up as a Muslim with an interest in Islamic thought and philosophy, and I also had a passion for the natural sciences. But I had not really given much thought to the possibility that these two domains of knowledge could be integrated. In many ways, Nasr's ideas were quite inspiring, because he emphasized that Islam was not only compatible with science, but actually encouraged scientific inquiry.
It was only when I became a scientist that I realized the challenge of actually unifying two bodies of knowledge that at their very core are completely distinct. Modern scientific knowledge consists of theories and models that are based on results of experiments which empirically test specific hypotheses. Spiritual knowledge is based on the study of sacred scriptures and metaphysical experiences. This fundamental disparity between modern science and spirituality results in a very different view of reality, as has been eloquently shown in Taner Edis' excellent book An Illusion of Harmony, and unifying modern science and spirituality seems like trying to fit a square peg into a round hole. Nasr's approach of transforming the modern concept of "science" to a more traditional, pre-modern and expansive view of science would indeed allow for a resolution of the disparity.
A "sacred science" would indeed permit the integration of spiritual knowledge and scientific knowledge, but in practice, such a re-interpretation of the nature of "science" is not practical. During the last centuries, modern science has developed its own methodologies of how experiments are conducted and interpreted and these processes are constantly undergoing change. Globally speaking, modern scientists hail from very different cultures and speak different native languages, but share common conceptions of the nature of science and scientific experiments so that they can communicate results to each other. It is not uncommon at a scientific conference to have speakers from Japan, Germany and the USA give presentations in the same session and have some degree of consensus as to the nature and interpretations of their results.
If a group of scientists began to redefine their basic conception of science, so that it would allow for the integration of sacred knowledge, would they still be able to communicate scientific knowledge with colleagues who maintained the current modern day definition of science? Since "sacred knowledge" is defined so differently even by individuals within a single faith, how would scientists who incorporate "sacred knowledge" into their scientific inquiry share their results with colleagues who have a very different concept of "sacred knowledge" or perhaps even reject it completely?
These practical considerations have not deterred many contemporary Muslim scientists and philosophers and they are still actively trying to develop practical approaches to a modern day "Islamic Science". However, there are also other voices that see modern science and religion as two distinct bodies of knowledge that allow us to view different but complementary aspects of reality. We do not advocate a unification of knowledge, but a form of mutual respect and dialogue so that each body of knowledge can draw from their partner's strengths and wisdom.
09.03 wib (08.10.14)


Realitas Paralel Ilmu modern dan Islam
"Ilmu Islam" - Saya sering menghadapi ungkapan ini ketika saya bertemu sesama Muslim di acara-acara sosial dan saya menyatakan bahwa saya seorang ilmuwan selama mengungkapkan asal-asalan profesi. Tak jarang, mitra diskusi saya mulai berbicara tentang "Ilmu Islam" dengan tingkat tertentu nostalgia dan kebanggaan, karena bagi mereka itu memunculkan nama-nama dan karya-karya ilmuwan Muslim seperti Ibn Sina (Avicenna) dan Al-Biruni (Alberonius) yang tinggal di 10 dan abad ke-11 CE adalah penting untuk menyadari bahwa mereka hanya dua wakil paling terkenal dari perusahaan ilmiah besar yang telah berkembang dalam sejarah Islam.
Seperti yang ditunjukkan oleh Seyyed Hossein Nasr, salah satu filsuf Muslim kontemporer terkemuka di dunia, para ilmuwan Muslim telah mengejar penelitian ilmiah sejak abad ke-8, yang mencakup berbagai macam disiplin ilmu mulai dari astronomi dan mineralogi untuk zoologi dan ilmu kedokteran. Namun, istilah "Ilmu Islam" tidak selalu hanya mengacu pada fakta bahwa para ilmuwan ini adalah Muslim. Sebaliknya, seperti yang disarankan oleh filsuf lain Muslim kontemporer terkemuka ilmu pengetahuan, Osman Bakar, istilah "Ilmu Islam" ciri ilmu "yang langsung didasarkan pada dan konseptual selaras dengan sistem kepercayaan Islam."
Nasr dan Bakar kontras seperti "Ilmu Islam" dengan ilmu pengetahuan modern yang terpancar dari Eropa pada abad ke-17 dan sejak itu menjadi kekuatan dominan dari penyelidikan ilmiah di dunia. Dalam pandangan mereka, ilmu pengetahuan modern hampir secara eksklusif didasarkan pada pandangan rasionalis dan materialis dunia, dan karenanya tidak memerlukan bahwa metodologi ilmiah dan interpretasi yang terintegrasi dengan sistem berbasis agama. Dominasi ilmu pengetahuan modern mengakibatkan penurunan yang lebih tradisional "Ilmu Islam", karena meskipun banyak Muslim terus bekerja sebagai ilmuwan, mereka tidak lagi mencoba untuk menyelaraskan temuan-temuan ilmiah mereka dengan konsep suci dalam pemikiran Islam tradisional. Bakar dan Nasr menekankan bahwa ilmu pengetahuan modern bukanlah pendekatan bebas nilai pengetahuan, dan bahwa ia membawa dalam dirinya penolakan terhadap dimensi sakral pengetahuan. Dalam pandangan Nasr, ilmu pengetahuan modern telah memonopoli konsep ilmu itu sendiri, sedangkan tradisional, ilmu pengetahuan adalah istilah yang lebih umum (berasal dari bahasa Latin scientia = pengetahuan) yang diizinkan integrasi suci dengan konsep-konsep ilmiah. Dia menyebut untuk pemulihan yang lebih komprehensif "ilmu suci", yang akan menyatukan kebijaksanaan dan pengetahuan dari semua agama dengan penelitian ilmiah.
Saya pertama kali bertemu ide Nasr sebagai mahasiswa dan menjadi terpikat dengan kemungkinan menyatukan proses penyelidikan ilmiah dengan iman dan spiritualitas. Hal ini mungkin merupakan cerminan dari keinginan dasar manusia untuk mengintegrasikan dan menyatukan pengetahuan. Aku sudah mengalami kegembiraan yang sama di tahun 80-an ketika fraktal dan teori chaos itu menjadi modis dalam budaya populer. Saya masih ingat bahwa di SMA saya Jerman, orang-orang dari kita yang Geeks ilmu akan duduk saat istirahat dan berbicara tentang keindahan Unified Theory Agung fisika partikel atau bagaimana teori chaos akan memungkinkan kita untuk menyatukan biologi, kimia dan fisika. Kami tidak memiliki petunjuk mengenai apa "teori chaos" atau Grand Unified Theory sebenarnya mensyaratkan, tapi kami hanya terpesona oleh gagasan menyatukan dan mengintegrasikan berbagai ilmu dengan beberapa persamaan matematika dasar. Jadi ketika saya membaca buku-buku Nasr di tahun 90-an, saya merasa bahwa "scientia sacra" (ilmu suci) akan memungkinkan untuk bahkan lebih komprehensif integrasi pengetahuan. Saya dibesarkan sebagai seorang Muslim dengan minat dalam pemikiran Islam dan filsafat, dan saya juga memiliki gairah untuk ilmu-ilmu alam. Tapi aku tidak benar-benar memberikan banyak pemikiran untuk kemungkinan bahwa kedua domain pengetahuan dapat diintegrasikan. Dalam banyak hal, ide-ide Nasr yang cukup inspiratif, karena dia menekankan bahwa Islam tidak hanya kompatibel dengan ilmu pengetahuan, tapi benar-benar mendorong penyelidikan ilmiah. Itu hanya ketika saya menjadi seorang ilmuwan yang saya menyadari tantangan sebenarnya menyatukan dua badan pengetahuan yang pada intinya mereka benar-benar berbeda. Pengetahuan ilmiah modern terdiri dari teori dan model yang didasarkan pada hasil percobaan yang secara empiris menguji hipotesis tertentu. Pengetahuan spiritual didasarkan pada studi kitab suci dan pengalaman metafisik. Ini perbedaan mendasar antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas hasil modern di pandangan yang sangat berbeda dari realitas, seperti yang telah fasih ditunjukkan dalam buku Taner Edis 'baik Sebuah Ilusi Harmony, dan pemersatu ilmu pengetahuan modern dan spiritualitas sepertinya mencoba menyesuaikan persegi pasak ke putaran lubang. Pendekatan Nasr mengubah konsep modern "ilmu" untuk pandangan yang lebih tradisional, pra-modern dan luas ilmu pengetahuan akan memang memungkinkan untuk resolusi perbedaan tersebut. A "ilmu suci" memang akan mengizinkan integrasi pengetahuan spiritual dan pengetahuan ilmiah, tetapi dalam prakteknya, seperti re-interpretasi dari sifat "ilmu" tidak praktis. Selama abad terakhir, ilmu pengetahuan modern telah mengembangkan metodologi sendiri bagaimana percobaan dilakukan dan ditafsirkan dan proses ini terus-menerus mengalami perubahan. Secara global berbicara, ilmuwan modern berasal dari budaya yang sangat berbeda dan berbicara bahasa ibu yang berbeda, tetapi berbagi konsepsi umum tentang sifat ilmu pengetahuan dan percobaan ilmiah sehingga mereka dapat mengkomunikasikan hasil-hasil satu sama lain. Hal ini tidak jarang pada konferensi ilmiah untuk memiliki pembicara dari Jepang, Jerman dan Amerika Serikat memberikan presentasi dalam sesi yang sama dan memiliki beberapa tingkat konsensus mengenai sifat dan interpretasi dari hasil mereka.
Jika sekelompok ilmuwan mulai mendefinisikan konsepsi dasar mereka ilmu pengetahuan, sehingga akan memungkinkan untuk integrasi pengetahuan suci, akan mereka masih bisa berkomunikasi pengetahuan ilmiah dengan rekan-rekan yang mempertahankan definisi modern saat ini ilmu pengetahuan? Karena "pengetahuan suci" didefinisikan begitu berbeda bahkan oleh individu dalam iman tunggal, bagaimana ilmuwan yang menggabungkan "pengetahuan suci" menjadi saham penyelidikan ilmiah mereka hasil mereka dengan rekan-rekan yang memiliki konsep yang sangat berbeda dari "pengetahuan suci" atau bahkan menolak itu benar-benar?
Rute pertimbangan praktis tidak menghalangi banyak ilmuwan Muslim kontemporer dan filsuf dan mereka masih aktif berusaha untuk mengembangkan pendekatan praktis untuk zaman modern "Ilmu Islam". Namun, ada juga suara-suara lain yang melihat ilmu pengetahuan modern dan agama sebagai dua badan yang berbeda dari pengetahuan yang memungkinkan kita untuk melihat aspek yang berbeda namun saling melengkapi realitas. Kami tidak menganjurkan perpaduan pengetahuan, tetapi bentuk saling menghormati dan dialog sehingga setiap tubuh pengetahuan dapat menarik dari kekuatan pasangan mereka dan kebijaksanaan.