COVER
Tugas Kelompok IX
MAKALAH
“ORGANOGENESIS”
Disusun untuk
memenuhi tugas
Mata Kuliah: Perkembangan
Hewan
Dosen: JUMRODAH, S. Si., M. Pd

Disusun Oleh:
Astri Arum
Sari (1301140319)
Nurhidayat Novalis (1301140326)
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
2015 / 1436 H
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita
semua, karenanya dapatlah penulis menghimpun dan menyelesaikan tugas mata
kuliah Ilmu Pendidikan sesuai dengan jadwal. Shalawat serta salam selalu
tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga dan sahabat dan
orang-orang yang mengikuti jejak langkah beliau samapai hari kiamat.
Pembuatan makalah ini bertujuan antara
lain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Hewan.
Selain itu juga sebagai bahan untuk menambah wawasan penulis tentang Organogenesis.
Harapan penulis pada
makalah sederhana ini dapat berguna bagi pembaca sebagai bahan tambahan dalam
proses belajar mengajar di dalam ruang kuliah dan lainya. Kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat penyusun harapkan demi perbaikan makalah sederhana
ini. Segala sesuatu yang benar itu datangnya dari ALLAH SWT, dan yang salah
adalah sifat manusia.
Palangka Raya, Maret
2015
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PANDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Organogenesis adalah suatu proses pembentukan organ yang berasal dari tiga lapisan germinal embrio yang telah terbentuk
terlebih dahulu pada tahap gastrulasi. Masing- masing lapisan yaitu ektoderm,
mesoderm dan endoderm akan membentuk suatu bumbung yang akan berkembang menjadi sistem organ tertentu
yang berbeda namun berkaitan satu dengan yang lain. Pada organogenesis juga
terjadi tahap pertumbuhan akhir embrio yaitu penyelesaian secara halus bentuk
definitif menjadi ciri suatu individu.
Lapisan-lapisan tersebut berkembang menjadi turunan
jaringan dan organ masing-masing pada saat dewasa. Misalnya lapisan Ektoderm akan berdiferensiasi menjadi
cor (jantung), otak (sistem saraf), integumen (kulit), rambut dan alat indera.
Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon),
alat reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi
seperti ren. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan,
kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu
pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh
pada makhluk hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang
keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata. Lapisan Endoderm akan
berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat
respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding
tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya :
Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam
pembentukan kelopak mata.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang
dimaksud dengan organogenesis ?
2.
Bagaimana proses organogenesis ?
3.
Bagaiman tahapan-tahapan dalam ektoderm, endoderm
dan mesoderm ?
C. TUJUAN
1.
Mengetahui
apa yang dimaksud dengan organogenesis
2.
Mengetahui
proses organogenesis.
3.
Mengatahui
tahapan-tahapan dalam
ektoderm, endoderm dan mesoderm.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN ORGANOGENESIS
Dalam perkembangan hewan,
organogenesis (organo-genesis berasal dari kata Yunani όργανον yaitu dengan mana yang bekerja", dan γένεσις "asal,
penciptaan, generasi") adalah proses di mana ektoderm, endoderm, dan
mesoderm berkembang menjadi organ-organ internal organisme. Organ-organ
internal memulai pembangunan pada manusia dalam 3 sampai minggu ke-8 di dalam
rahim. Lapisan dalam organogenesis dibedakan menjadi tiga proses: lipatan,
perpecahan, dan kondensasi. Mengembangkan selama tahap awal pada hewan chordata
adalah tabung saraf dan notochord. Semua hewan vertebrata memiliki proses
pembentukan gastrula dengan cara yang sama. Vertebrata mengembangkan pial
neural yang membedakan ke dalam banyak struktur, termasuk beberapa tulang,
otot, dan komponen dari sistem saraf perifer.
Organogenesis adalah proses pembentukan organ atau alat tubuh.
Pertumbuhan ini diawali dari pembentukan embrio (bentuk primitif) menjadi fetus (bentuk definitif) kemudian berdiferensiasi
menjadi memiliki bentuk dan rupa yang spesifik bagi keluarga hewan dalam satu
species. Organogenesis mencangkup proses transformasi atau perubahan
bentuk serta proses diferensiasi prosesyang terjadi secara terus menerus pada
sel, jaringan untuk membentuk struktur yang spesifik. Diferensiasi sel terjadi
melalui interaksi sel yang diperantarai oleh molekul signalling yang
bervariasi.
Organogensisi dimulai akhir minggu ke 3 dan
berakhir pada akhir minggu ke 8. Dengan berakhirnya organogenesis maka
cirri-ciri eksternal dan system organ utama sudah terbentuk yang selanjutnya
embryo disebut fetus.
Organogenesis terdiri dari dua
periode, yaitu pertumbuhan antara dan pertumbuhan akhir. Pada periode
pertumbuhan antara atau transisi terjadi transformasi dan differensiasi
bagian-bagian tubuh embryo dari bentuk primitive sehingga menjadi bentuk
definitif. Pada periode ini embryo akan memiliki bentuk yang khusus bagi suatu
spesies. Pada periode pertumbuhan akhir, penyelesaian secara halus bentuk
definitive sehingga menjadi ciri suatu individu. Pada periode ini embryo
mengalami penyelesaian pertumbuhan jenis kelamin, watak (karakter fisik dan
psikis) serta wajah yang khusus bagi setiap individu.[1]
B. PROSES ORGANOGENESIS
Dalam berlangsungnya proses organogenesis memiliki dua periode atau tahapan
yaitu:
1.
Periode
Pertumbuhan Antara
Periode ini terjadi transformasi dan
diferensiasi bagian – bagian tubuh embrio sehingga menjadi bentuk yang
definitif, yang khas bagi suatu spesies. Seperi pada katak adanya tingkat
berudu.
2.
Periode
Pertumbuhan Akhir
Periode pertumbuhan akhir adalah periode penyelesaian bentuk definitif
menjadi suatu bentuk individu (pertumbuhan jenis kelamin, roman /wajah yang
khas bagi suatu individu). Namun pada aves, reptil dan mamalia batas antara
periode antara dan akhir tidak jelas.
Organogenesis yaitu proses pembentukan
organ-organ tubuh pada makhluk hidup (hewan dan manusia). Organ yang dibentuk
ini berasal dari masing-masing lapisan dinding tubuh embrio pada fase gastrula
yaitu:
a.
Lapisan
Ektoderm akan berdiferensiasi menjadi cor (jantung), otak (sistem saraf),
integumen (kulit), rambut dan alat indera.
b.
Lapisan
Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon), alat
reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi seperti
ren.
c.
Lapisan
Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan
alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan
dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup.
Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi
dalam pembentukan kelopak mata.[2]
C. TAHAPAN DALAM EKTODERM, ENDODERM DAN MESODERM
1.
TURUNAN EKTODERM
a.
Pembentukan sistem saraf pusat
Bumbung neural akan berkembang menjadi sistem saraf pusat, yaitu otak dan
sumsum tulang belakang.[3]
![[Untitled%255B4%255D.png]](file:///C:\Users\ACER\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image004.png)
Gambar: pembentukan system saraf pusat
b.
Pembentukan mata
Mata merupakan organ fotosensoris yaitu organ yang menerima
rangsangan cahaya. Cahaya masuk melintasi kornea, lensa, dan beberapa struktur
refraksi di dalam orbita. Cahaya kemudian difokuskan oleh lensa ke bagian saraf
mata yang sensitif terhadap cahaya yaitu retina. Retina mengandung sel-sel
batang dan kerucut yang akan mengubah impuls cahaya menjadi impuls saraf.
Setelah melintasi suatu rangkaian lapisan sel saraf dan sel-sel penyokong
informasi penglihatan diteruskan oleh saraf optik ke otak untuk diproses.[4]
1)
Pembentukan mata embrio manusia terjadi pada usia
kehamilan 6 minggu.
Prosensefalon bakal diensefalon berevaginasi ke arah lateral membentuk vesikula optic.
Prosensefalon bakal diensefalon berevaginasi ke arah lateral membentuk vesikula optic.
2)
Vesikula optik menginduksi ektoderm epidermis di
hadapannya untuk membentuk penebalan / plakoda lensa.
3)
Plakoda lensa berinvaginasi menjadi vesikula
lensa, lalu menginduksi balik vesikula optik → vesikula optik berinvaginasi
menjadi cawan optic.
4)
Cawan optik berdiferensiasi menjadi dua lapisan,
yaitu sebelah luar: lapisan berpigmen → menjadi retina berpigmen; dan sebelah
dalam: lapisan sensoris → menjadi retina sensoris.
5)
Bagian pangkal cawan optik menyempit, disebut
tangkai optik dan berhubungan dengan diensefalon. Akson sel-sel ganglionik dari
retina sensoris bertemu pada bagian dasar mata sepanjang tangkai optik dan
menjadi saraf optic.
6)
Vesikula lensa melepaskan diri dari ektoderm
epidermis → menjadi lensa. Lensa akan berdiferensiasi menjadi transparan,
berkaitan dengan perubahan struktur sel dan sintesis protein spesifik yang
disebut kristalin.
7)
Lensa menginduksi ektoderm epidermis yang
menutupinya → menjadi kornea. Kornea akan menjadi jernih, karena pigmen pada
sel-selnya menjdi hilang.
8)
Bagian tepi cawan optik yang tidak ikut berubah
menjadi retina sensoris akan berkembang menjadi iris.
9)
Lapisan koroid dan sklera dibentuk dari mesenkim
yang berakumulasi mengelilingi bola mata.
10)
Ektoderm epidermis di depan kornea akan menjadi
kelopak mata. Kematian sel-sel di tengah-tengah bagian tersebut menyebabkan
terpisahnya kelopak mata atas dan bawah.
![clip_image024[4]](file:///C:\Users\ACER\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image006.png)
Gambar: pembentukan mata
c.
Pembentukan kulit
Kulit adalah bagian paling luar dari jaringan
tubuh kita lapisan terluar tubuh manusia. Kulit membungkus tubuh kita. Pada
saat kulit terkelupas, rasa perih menyengat. Hal itu menunjukkan betapa kulit,
selain membungkus tubuh, juga memberikan perlindungan bagi jaringan jaringan di
bawahnya. Pada tubuh kita, kulit meliputi seluruh jaringan kulit secara umum,
termasuk kulit wajah.[5]
Proses pembentukan kulit:
1)
Sampai umur 1 bulan, embrio manusia hanya memiliki
penutup tubuh berupa selapis sel ektoderm berbentuk kubus.
2)
Sel-sel ektoderm membelah secara mitosis membentuk
2 lapisan, yaitu periderm (sebelah atas) dan ektoderm (sebelah bawah). Periderm
hilang sebelum bayi lahir.
3)
Pada akhir bulan ke-2 sel-sel ektoderm
berproliferasi membentuk 2-3 lapis sel yang disebut stratum germinativum
(stratum basale).
4)
Stratum berikutnya terbentuk di atasnya, yaitu
stratum spinosum.
5)
Berikutnya terbentuk stratum granulosum yang
terdiri dari 3-5 lapis sel; sel-selnya memiliki granula keratohialin.
6)
Berikutnya terbentuk stratum lusidum (pada kulit
tak berambut/ kulit tebal) berupa selapis tipis sel.
7)
Selanjutnya terbentuk stratum korneum yang
merupakan lapisan epidermis teratas. Sel-sel mati dari startum korneum secara
kontinyu dilepaskan dari permukaan kulit, digantikan oleh sel-sel lusidum.
Sel-sel lusidum digantikan oleh sel-sel dari lapisan granulosum, dan
seterusnya. Hal ini dapat terjadi karena sel-sel pada stratum germinativum
selalu aktif berproliferasi.
8)
Dermis kulit dibentuk oleh sel-sel mesenkim yang
berasal dari mesoderm somatik hipomer atau dari dermatom epimer. Sel-sel
mesenkim membentuk jaringan ikat, pembuluh darah, serta otot polos penegak
rambut (pada kulit berambut). Saraf dan ujung-ujung saraf yang terdapat di
dermis merupakan cabang dari saraf-saraf yang memasuki kulit.
Gambar: pembentukan kulit
d.
Pembentukan wajah
Wajah adalah bagian tubuh yang terpenting untuk
identitas. Wajah manusia sama dengan wajah mamalia stadium filotipik. Semula
wajah tampak sebagai mulut dan jidat (feon). Pertumbuhan antara mulut dan jidat
yang diatur oleh gen (morfogen) menimbulkan perbedaan antara mamalia yang satu
dengan yang lain. Terbentuknya lekukan hidung (nasal pit) identitas wajah mulai
Nampak. Di antara kedua lekukan timbul peninggian (nasal proses) yang akan jadi
batang hidung. Di sebelah lateral terjadi 2 alur (naso optic furrow), antara
nasal pit dan calon mata. Di bawah nasal pit, pertemuan calon maksile
kanan-kiri belum bertemu sehingga wajah masih banyak alur tampak seperti orang
sumbing dan hidung pesek.
Perkembangan selanjutnya
epiderm kanan dan kiri pada calon rahang atas bertemu dan melebur, alur yang
lain juga menutup, batang hidung meninggi, jarak antara mulut dan jidat
menjauh, mata berposisi kearah depan, mandibule terangkat dari bagian leher,
akhirnya menjadi wajah tetap manusia. Perkembangan tersebut dimulai dari
kehamilan minggu ke 14-19.
e.
Pembentukan hidung
Proses pembentukan hidung
dimulai dari pembentukan wajah pada akhir minggu ke-4 yang ditandai dengan
adanya tonjol- tonjol wajah yang dibentuk oleh pasangan lengkung faring
pertama. Selanjutnya tampak tonjol maksila dan mandibula, kemudian dan di sisi
kanan kiri prominensia frontonasalis muncul penebalan dari ektoderm permukaan
yaitu placode nasal (olfactorius).
Pada minggu ke-5
plakoda-plakoda hidung mengalami invaginasi membentuk lubang hidung, dalam hal
ini plakoda membentuk rigi jaringan yang mengelilingi masing-masing lubang dan
membentuk tonjol hidung. Tonjol yang berada ditepi luar lubang adalah tonjol
hidung lateral dan yang ada ditepi dalam adalah tonjol hidung medial.
Selama dua minggu
selanjutnya tonjolan maxila terus bertambah besar ukurannya, tonjolan ini
tumbuh ke arah medial sehingga mendesak tonjol hidung ke arah garis tengah
kemudian celah antara tonjol hidung medial dan tonjol hidung maksila hilang dan
keduanya bersatu membentuk bibir atas.
Mula-mula tonjol hidung
lateral terpisah oleh suatu alur yang dalam (alur nasolakrimal).ektoderm
dilantai alur ini membentuk sebuah tali epitel membentuk ductus nasolacrimalis,
ujung atasnya melebar membentuk saccus lacrimalis, setelah lepasnya tali
tersebut, tonjol maksila dan tonjol lateral menyatu. Hidung yang terbentuk dari
tonjol frontal membentuk jembatannya, gabungan tonjol-tonjol hidung medial
membentuk lekung cuping dan ujung hidung, dan tonjol hidung lateral membentuk
sisinya (alae).
Selama minggu ke-6 lubang hidung makin bertambah dalam,karena tumbuhnya
tonjol-tonjol hidung yang ada disekitarnya dan sebagian lagi karena lubang ini
menembus kedalam mesenkim bawahnya. Dan pada saat dan pada saat itu diikuti juga
dengan perkembangan syaraf olfaktori. Pada minggu ke-7 dan ke-8 organ hidung
akan terlihat dengan jelas.[6]
f.
Pembentukan telinga
Telinga terbagi
menjadi tiga yaitu: telingan dalam, tengah dan luar. Telinga dalam merupakan perkembangan dari plakoda otika
yang mengalami invaginasi ke arah rhombensefalon. Telinga tengah merupakan sisa
perkembangan katung faring II. Lubang telinga merupakan sisa perkembangan celah
faring II, sedang daun telinga merupakan pertumbuhan lengkung faring I dan II.
Telinga tengah merupakan
rongga derivate dari kantung faring berisi osikulus. Osikulus terdiri dari
maleus, inkus, dan stapes. Maleus kontak dengan membrane timpani, meneruskan
getaran ke inkus lalu ke stapes. Antara telinga dalam dan tengah terdapat
jendela (fenestra). Berhubungan dengan ronnga mulut melalui pipa eustachius.
Telinga luar terdiri dari
daun telinga (pina) berasal dari peninggian lengkung faring I dan II. Lubang
telinga merupakan derivate celah faring I. Membran timpani merupakan lapis
mesodermal yang tidak tembus sehingga membentuk
membrane sebagai penerima getaran.
2.
TURUNAN ENDODERM
a.
Pembentukan Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan primitif terbagi menjadi 3 bagian, yaitu usus depan
(fore gut), usus tengah (mid gut), dan usus belakang (hind gut).
1) Usus depan: terbentuk
oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron bagian anterior, yang akan
diikuti oleh mesoderm splanknik. Usus depan akan menjadi rongga mulut, faring,
esofagus, lambung dan duodenum.
2) Usus tengah: daerah arkenteron
antara usus depan dan usus belakang.
Usus tengah akan menjadi yeyunum, ileum dan kolon.
3) Usus belakang:
terbentuk oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron bagian posterior, yang
akan diikuti oleh mesoderm splanknik.
Usus belakang akan menjadi rektum dan kloaka atau anus.
Epitel saluran pencernaan terbentuk dari endoderm,
kecuali epitel mulut dan anus–dari ektoderm. Jaringan-jaringan /
struktur-struktur lain penyususn saluran pencernaan dibentuk oleh mesoderm
splanknik.
Gambar:
pembentukan saluran pencernaan
1)
Pembentukan Mulut
Mulut terbentuk pada bagian anterior usus depan. Invaginasi ektoderm (= lekuk
stomodeum) yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus depan menyebabkan
terbentuknya keping oral. Keping oral makin lama makin menipis, akhirnya pecah
→ menjadi lubang mulut.
2) Pembentukan Anus
Anus terbentuk pada bagian posterior usus belakang. Invaginasi ektoderm (=
lekuk proktodeum) yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus belakang
menyebabkan terbentuknya keping anal. Keping anal makin lama makin menipis,
akhirnya pecah → menjadi lubang anus.
b.
Pembentukan Hati
Tunas (divertikulum) hati timbul sebagai evaginasi ke arah ventaral dari
endoderm di antara bakal lambung dan duodenum. Tonjolan endoderm tersebut
dilapisi oleh mesenkim dan mesoderm splanknik. Tunas hati kemudian
bercabang-cabang membentuk hati, percabangan bagian distal membentuk sel-sel
parenkim sekretori, bagian proksimal membentuk sel-sel duktus hepatikus.
1) Sel-sel hati
(perenkim hati) dan sel-sel duktus hepatikus terbentuk dari endoderm.
2) Jaringan-jaringan
lain dari hati dibentuk oleh mesenkim dan mesoderm splanknik.
3) Dari bagian akar
tunas hati timbul tonjolan yang lain, yaitu tunas kantung empedu.
Gambar: pembentukan hati
c.
Pembentukan Pancreas
Pankreas tunggal berasal dari dua buah tonjolan endoderm di dekat tunas
hati (1 diventral dan 1 di dorsal). Kedua tonjolan tersebut kemudian
bercabang-cabang dan berfusi membentuk pankreas tunggal.
1) Sel-sel pankreas
sekretori (asini pankreas) dan sel-sel duktus pankreatik dibentuk dari sel-sell
endodermal.
2) Pulau-pulau
Langerhans dibentuk dari sel-sell endodermal. Pada awal perkembangannya,
kelompok sel-sel endodermal ini menjadi terpisah dan terperangkap dalam
mesoderm di antara asini pankreas. Kelompok-kelompok tersebut termodifikasi menjadi
sel-sel pulau Langerhans. Di dalam pankreas manusia dewasa terdapat 200.000
sampai 1.800.000 pulau Langerhans.
Gambar: pembentukan pancreas
d.
![clip_image026[4]](file:///C:\Users\ACER\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image008.png)
![clip_image028[4]](file:///C:\Users\ACER\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image010.png)
![clip_image030[4]](file:///C:\Users\ACER\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image012.png)
![clip_image032[4]](file:///C:\Users\ACER\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image014.png)