Kamis, 05 Januari 2017

ORGANOGENESIS



COVER

Tugas Kelompok IX
MAKALAH
“ORGANOGENESIS”
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah: Perkembangan Hewan
Dosen: JUMRODAH, S. Si., M. Pd
Disusun Oleh:
Astri Arum Sari (1301140319)
Nurhidayat Novalis (1301140326)

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
2015 / 1436 H

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita semua, karenanya dapatlah penulis menghimpun dan menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan sesuai dengan jadwal. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga dan sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah beliau samapai hari kiamat.
Pembuatan makalah ini bertujuan antara lain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Hewan. Selain itu juga sebagai bahan untuk menambah wawasan penulis tentang Organogenesis.
Harapan penulis pada makalah sederhana ini dapat berguna bagi pembaca sebagai bahan tambahan dalam proses belajar mengajar di dalam ruang kuliah dan lainya. Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penyusun harapkan demi perbaikan makalah sederhana ini. Segala sesuatu yang benar itu datangnya dari ALLAH SWT, dan yang salah adalah sifat manusia.

Palangka Raya, Maret 2015

Penyusun


DAFTAR ISI







BAB I

PANDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Organogenesis adalah suatu proses pembentukan organ yang berasal dari  tiga lapisan germinal embrio yang telah terbentuk terlebih dahulu pada tahap gastrulasi. Masing- masing lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm akan membentuk suatu bumbung yang  akan berkembang menjadi sistem organ tertentu yang berbeda namun berkaitan satu dengan yang lain. Pada organogenesis juga terjadi tahap pertumbuhan akhir embrio yaitu penyelesaian secara halus bentuk definitif menjadi ciri suatu individu.
Lapisan-lapisan tersebut berkembang menjadi turunan jaringan dan organ masing-masing pada saat dewasa. Misalnya  lapisan Ektoderm akan berdiferensiasi menjadi cor (jantung), otak (sistem saraf), integumen (kulit), rambut dan alat indera. Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon), alat reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi seperti ren. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa yang dimaksud dengan organogenesis ?
2.      Bagaimana proses organogenesis ?
3.      Bagaiman tahapan-tahapan dalam ektoderm, endoderm dan mesoderm ?

C.    TUJUAN

1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan organogenesis
2.      Mengetahui proses organogenesis.
3.      Mengatahui tahapan-tahapan dalam ektoderm, endoderm dan mesoderm.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ORGANOGENESIS

Dalam perkembangan hewan, organogenesis (organo-genesis berasal dari kata Yunani όργανον yaitu dengan mana yang bekerja", dan γένεσις "asal, penciptaan, generasi") adalah proses di mana ektoderm, endoderm, dan mesoderm berkembang menjadi organ-organ internal organisme. Organ-organ internal memulai pembangunan pada manusia dalam 3 sampai minggu ke-8 di dalam rahim. Lapisan dalam organogenesis dibedakan menjadi tiga proses: lipatan, perpecahan, dan kondensasi. Mengembangkan selama tahap awal pada hewan chordata adalah tabung saraf dan notochord. Semua hewan vertebrata memiliki proses pembentukan gastrula dengan cara yang sama. Vertebrata mengembangkan pial neural yang membedakan ke dalam banyak struktur, termasuk beberapa tulang, otot, dan komponen dari sistem saraf perifer.
Organogenesis adalah proses pembentukan organ atau alat tubuh. Pertumbuhan ini diawali dari pembentukan embrio (bentuk primitif) menjadi fetus (bentuk definitif) kemudian berdiferensiasi menjadi memiliki bentuk dan rupa yang spesifik bagi keluarga hewan dalam satu species. Organogenesis mencangkup proses transformasi atau perubahan bentuk  serta proses diferensiasi  prosesyang terjadi secara terus menerus pada sel, jaringan untuk membentuk struktur yang spesifik. Diferensiasi sel terjadi melalui interaksi sel yang diperantarai oleh molekul signalling yang bervariasi.
Organogensisi dimulai akhir minggu ke 3 dan berakhir pada akhir minggu ke 8. Dengan berakhirnya organogenesis maka cirri-ciri eksternal dan system organ utama sudah terbentuk yang selanjutnya embryo disebut fetus.
Organogenesis terdiri dari dua periode, yaitu pertumbuhan antara dan pertumbuhan akhir. Pada periode pertumbuhan antara atau transisi terjadi transformasi dan differensiasi bagian-bagian tubuh embryo dari bentuk primitive sehingga menjadi bentuk definitif. Pada periode ini embryo akan memiliki bentuk yang khusus bagi suatu spesies. Pada periode pertumbuhan akhir, penyelesaian secara halus bentuk definitive sehingga menjadi ciri suatu individu. Pada periode ini embryo mengalami penyelesaian pertumbuhan jenis kelamin, watak (karakter fisik dan psikis) serta wajah yang khusus bagi setiap individu.[1]

B.     PROSES ORGANOGENESIS

Dalam berlangsungnya proses organogenesis memiliki dua periode atau tahapan yaitu:
1.      Periode Pertumbuhan Antara
Periode ini terjadi transformasi dan diferensiasi bagian – bagian tubuh embrio sehingga menjadi bentuk yang definitif, yang khas bagi suatu spesies. Seperi pada katak adanya tingkat berudu.
2.      Periode Pertumbuhan Akhir
Periode pertumbuhan akhir adalah periode penyelesaian bentuk definitif menjadi suatu bentuk individu (pertumbuhan jenis kelamin, roman /wajah yang khas bagi suatu individu). Namun pada aves, reptil dan mamalia batas antara periode antara dan akhir tidak jelas.
Organogenesis yaitu proses pembentukan organ-organ tubuh pada makhluk hidup (hewan dan manusia). Organ yang dibentuk ini berasal dari masing-masing lapisan dinding tubuh embrio pada fase gastrula yaitu:
a.       Lapisan Ektoderm akan berdiferensiasi menjadi cor (jantung), otak (sistem saraf), integumen (kulit), rambut dan alat indera.
b.      Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon), alat reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi seperti ren.
c.       Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata.[2]

C.    TAHAPAN DALAM EKTODERM, ENDODERM DAN MESODERM

1.      TURUNAN EKTODERM
a.      Pembentukan sistem saraf pusat
Bumbung neural akan berkembang menjadi sistem saraf pusat, yaitu otak dan sumsum tulang belakang.[3]
[Untitled%255B4%255D.png]
Gambar: pembentukan system saraf pusat
b.      Pembentukan mata
Mata merupakan organ fotosensoris yaitu organ yang menerima rangsangan cahaya. Cahaya masuk melintasi kornea, lensa, dan beberapa struktur refraksi di dalam orbita. Cahaya kemudian difokuskan oleh lensa ke bagian saraf mata yang sensitif terhadap cahaya yaitu retina. Retina mengandung sel-sel batang dan kerucut yang akan mengubah impuls cahaya menjadi impuls saraf. Setelah melintasi suatu rangkaian lapisan sel saraf dan sel-sel penyokong informasi penglihatan diteruskan oleh saraf optik ke otak untuk diproses.[4]
1)      Pembentukan mata embrio manusia terjadi pada usia kehamilan 6 minggu.
 Prosensefalon bakal diensefalon berevaginasi ke arah lateral membentuk vesikula optic.
2)      Vesikula optik menginduksi ektoderm epidermis di hadapannya untuk membentuk penebalan / plakoda lensa.
3)      Plakoda lensa berinvaginasi menjadi vesikula lensa, lalu menginduksi balik vesikula optik → vesikula optik berinvaginasi menjadi cawan optic.
4)      Cawan optik berdiferensiasi menjadi dua lapisan, yaitu sebelah luar: lapisan berpigmen → menjadi retina berpigmen; dan sebelah dalam: lapisan sensoris → menjadi retina sensoris.
5)      Bagian pangkal cawan optik menyempit, disebut tangkai optik dan berhubungan dengan diensefalon. Akson sel-sel ganglionik dari retina sensoris bertemu pada bagian dasar mata sepanjang tangkai optik dan menjadi saraf optic.
6)      Vesikula lensa melepaskan diri dari ektoderm epidermis → menjadi lensa. Lensa akan berdiferensiasi menjadi transparan, berkaitan dengan perubahan struktur sel dan sintesis protein spesifik yang disebut kristalin.
7)      Lensa menginduksi ektoderm epidermis yang menutupinya → menjadi kornea. Kornea akan menjadi jernih, karena pigmen pada sel-selnya menjdi hilang.
8)      Bagian tepi cawan optik yang tidak ikut berubah menjadi retina sensoris akan berkembang menjadi iris.
9)      Lapisan koroid dan sklera dibentuk dari mesenkim yang berakumulasi mengelilingi bola mata.
10)  Ektoderm epidermis di depan kornea akan menjadi kelopak mata. Kematian sel-sel di tengah-tengah bagian tersebut menyebabkan terpisahnya kelopak mata atas dan bawah.
clip_image024[4]
Gambar: pembentukan mata
c.       Pembentukan kulit
Kulit adalah bagian paling luar dari jaringan tubuh kita lapisan terluar tubuh manusia. Kulit membungkus tubuh kita. Pada saat kulit terkelupas, rasa perih menyengat. Hal itu menunjukkan betapa kulit, selain membungkus tubuh, juga memberikan perlindungan bagi jaringan jaringan di bawahnya. Pada tubuh kita, kulit meliputi seluruh jaringan kulit secara umum, termasuk kulit wajah.[5] Proses pembentukan kulit:
1)      Sampai umur 1 bulan, embrio manusia hanya memiliki penutup tubuh berupa selapis sel ektoderm berbentuk kubus.
2)      Sel-sel ektoderm membelah secara mitosis membentuk 2 lapisan, yaitu periderm (sebelah atas) dan ektoderm (sebelah bawah). Periderm hilang sebelum bayi lahir.
3)      Pada akhir bulan ke-2 sel-sel ektoderm berproliferasi membentuk 2-3 lapis sel yang disebut stratum germinativum (stratum basale).
4)      Stratum berikutnya terbentuk di atasnya, yaitu stratum spinosum.
5)      Berikutnya terbentuk stratum granulosum yang terdiri dari 3-5 lapis sel; sel-selnya memiliki granula keratohialin.
6)      Berikutnya terbentuk stratum lusidum (pada kulit tak berambut/ kulit tebal) berupa selapis tipis sel.
7)      Selanjutnya terbentuk stratum korneum yang merupakan lapisan epidermis teratas. Sel-sel mati dari startum korneum secara kontinyu dilepaskan dari permukaan kulit, digantikan oleh sel-sel lusidum. Sel-sel lusidum digantikan oleh sel-sel dari lapisan granulosum, dan seterusnya. Hal ini dapat terjadi karena sel-sel pada stratum germinativum selalu aktif berproliferasi.
8)      Dermis kulit dibentuk oleh sel-sel mesenkim yang berasal dari mesoderm somatik hipomer atau dari dermatom epimer. Sel-sel mesenkim membentuk jaringan ikat, pembuluh darah, serta otot polos penegak rambut (pada kulit berambut). Saraf dan ujung-ujung saraf yang terdapat di dermis merupakan cabang dari saraf-saraf yang memasuki kulit.
clip_image026[4]
Gambar: pembentukan kulit
d.      Pembentukan wajah
Wajah  adalah bagian tubuh yang terpenting untuk identitas. Wajah manusia sama dengan wajah mamalia stadium filotipik. Semula wajah tampak sebagai mulut dan jidat (feon). Pertumbuhan antara mulut dan jidat yang diatur oleh gen (morfogen) menimbulkan perbedaan antara mamalia yang satu dengan yang lain. Terbentuknya lekukan hidung (nasal pit) identitas wajah mulai Nampak. Di antara kedua lekukan timbul peninggian (nasal proses) yang akan jadi batang hidung. Di sebelah lateral terjadi 2 alur (naso optic furrow), antara nasal pit dan calon mata. Di bawah nasal pit, pertemuan calon maksile kanan-kiri belum bertemu sehingga wajah masih banyak alur tampak seperti orang sumbing dan hidung pesek.
Perkembangan selanjutnya epiderm kanan dan kiri pada calon rahang atas bertemu dan melebur, alur yang lain juga menutup, batang hidung meninggi, jarak antara mulut dan jidat menjauh, mata berposisi kearah depan, mandibule terangkat dari bagian leher, akhirnya menjadi wajah tetap manusia. Perkembangan tersebut dimulai dari kehamilan minggu ke 14-19.
e.       Pembentukan hidung
Proses pembentukan hidung dimulai dari pembentukan wajah pada akhir minggu ke-4 yang ditandai dengan adanya tonjol- tonjol wajah yang dibentuk oleh pasangan lengkung faring pertama. Selanjutnya tampak tonjol maksila dan mandibula, kemudian dan di sisi kanan kiri prominensia frontonasalis muncul penebalan dari ektoderm permukaan yaitu placode nasal (olfactorius).
Pada minggu ke-5 plakoda-plakoda hidung mengalami invaginasi membentuk lubang hidung, dalam hal ini plakoda membentuk rigi jaringan yang mengelilingi masing-masing lubang dan membentuk tonjol hidung. Tonjol yang berada ditepi luar lubang adalah tonjol hidung lateral dan yang ada ditepi dalam adalah tonjol hidung medial.
Selama dua minggu selanjutnya tonjolan maxila terus bertambah besar ukurannya, tonjolan ini tumbuh ke arah medial sehingga mendesak tonjol hidung ke arah garis tengah kemudian celah antara tonjol hidung medial dan tonjol hidung maksila hilang dan keduanya bersatu membentuk bibir atas.
Mula-mula tonjol hidung lateral terpisah oleh suatu alur yang dalam (alur nasolakrimal).ektoderm dilantai alur ini membentuk sebuah tali epitel membentuk ductus nasolacrimalis, ujung atasnya melebar membentuk saccus lacrimalis, setelah lepasnya tali tersebut, tonjol maksila dan tonjol lateral menyatu. Hidung yang terbentuk dari tonjol frontal membentuk jembatannya, gabungan tonjol-tonjol hidung medial membentuk lekung cuping dan ujung hidung, dan tonjol hidung lateral membentuk sisinya (alae).
Selama minggu ke-6 lubang hidung makin bertambah dalam,karena tumbuhnya tonjol-tonjol hidung yang ada disekitarnya dan sebagian lagi karena lubang ini menembus kedalam mesenkim bawahnya. Dan pada saat dan pada saat itu diikuti juga dengan perkembangan syaraf olfaktori. Pada minggu ke-7 dan ke-8 organ hidung akan terlihat dengan jelas.[6]
f.       Pembentukan telinga
Telinga terbagi menjadi tiga yaitu: telingan dalam, tengah dan luar. Telinga dalam merupakan perkembangan dari plakoda otika yang mengalami invaginasi ke arah rhombensefalon. Telinga tengah merupakan sisa perkembangan katung faring II. Lubang telinga merupakan sisa perkembangan celah faring II, sedang daun telinga merupakan pertumbuhan lengkung  faring I dan II.
Telinga tengah merupakan rongga derivate dari kantung faring berisi osikulus. Osikulus terdiri dari maleus, inkus, dan stapes. Maleus kontak dengan membrane timpani, meneruskan getaran ke inkus lalu ke stapes. Antara telinga dalam dan tengah terdapat jendela (fenestra). Berhubungan dengan ronnga mulut melalui pipa eustachius.
Telinga luar terdiri dari daun telinga (pina) berasal dari peninggian lengkung faring I dan II. Lubang telinga merupakan derivate celah faring I. Membran timpani merupakan lapis mesodermal yang tidak tembus sehingga membentuk  membrane sebagai penerima getaran.
2.      TURUNAN ENDODERM
a.      Pembentukan Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan primitif terbagi menjadi 3 bagian, yaitu usus depan (fore gut), usus tengah (mid gut), dan usus belakang (hind gut).
1)      Usus depan: terbentuk oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron bagian anterior, yang akan diikuti oleh mesoderm splanknik. Usus depan akan menjadi rongga mulut, faring, esofagus, lambung dan duodenum.
2)      Usus tengah: daerah arkenteron antara usus depan dan usus belakang.  Usus tengah akan menjadi yeyunum, ileum dan kolon.
3)      Usus belakang: terbentuk oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron bagian posterior, yang akan diikuti oleh mesoderm splanknik.  Usus belakang akan menjadi rektum dan kloaka atau anus.
Epitel saluran pencernaan terbentuk dari endoderm, kecuali epitel mulut dan anus–dari ektoderm. Jaringan-jaringan / struktur-struktur lain penyususn saluran pencernaan dibentuk oleh mesoderm splanknik.
clip_image028[4]
Gambar: pembentukan saluran pencernaan
1)      Pembentukan Mulut
Mulut terbentuk pada bagian anterior usus depan. Invaginasi ektoderm (= lekuk stomodeum) yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus depan menyebabkan terbentuknya keping oral. Keping oral makin lama makin menipis, akhirnya pecah → menjadi lubang mulut.
2)      Pembentukan Anus
Anus terbentuk pada bagian posterior usus belakang. Invaginasi ektoderm (= lekuk proktodeum) yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus belakang menyebabkan terbentuknya keping anal. Keping anal makin lama makin menipis, akhirnya pecah → menjadi lubang anus.
b.      Pembentukan Hati
Tunas (divertikulum) hati timbul sebagai evaginasi ke arah ventaral dari endoderm di antara bakal lambung dan duodenum. Tonjolan endoderm tersebut dilapisi oleh mesenkim dan mesoderm splanknik. Tunas hati kemudian bercabang-cabang membentuk hati, percabangan bagian distal membentuk sel-sel parenkim sekretori, bagian proksimal membentuk sel-sel duktus hepatikus.
1)      Sel-sel hati (perenkim hati) dan sel-sel duktus hepatikus terbentuk dari endoderm.
2)      Jaringan-jaringan lain dari hati dibentuk oleh mesenkim dan mesoderm splanknik.
3)      Dari bagian akar tunas hati timbul tonjolan yang lain, yaitu tunas kantung empedu.
clip_image030[4]
Gambar: pembentukan hati
c.       Pembentukan Pancreas
Pankreas tunggal berasal dari dua buah tonjolan endoderm di dekat tunas hati (1 diventral dan 1 di dorsal). Kedua tonjolan tersebut kemudian bercabang-cabang dan berfusi membentuk pankreas tunggal.
1)      Sel-sel pankreas sekretori (asini pankreas) dan sel-sel duktus pankreatik dibentuk dari sel-sell endodermal.
2)      Pulau-pulau Langerhans dibentuk dari sel-sell endodermal. Pada awal perkembangannya, kelompok sel-sel endodermal ini menjadi terpisah dan terperangkap dalam mesoderm di antara asini pankreas. Kelompok-kelompok tersebut termodifikasi menjadi sel-sel pulau Langerhans. Di dalam pankreas manusia dewasa terdapat 200.000 sampai 1.800.000 pulau Langerhans.
clip_image032[4]
Gambar: pembentukan pancreas
d.    

Ganggang (Gandar,Karang, Pirang ,Merah ) Dan Fungi



COVER

Tugas Kelompok IV,

BOTANI TUMBUHAN RENDAH
Ganggang  (Gandar,Karang, Pirang ,Merah ) Dan Fungi
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Botani Tumbuhan Rendah.
Dosen Pembimbing: Usmiyatun, M.Pd.


Di susun oleh:
Okta Vianita Sari
NIM: 1301140337
Tuti Nur
NIM: 1301140339


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita semua, karena dapatlah penyusun menghimpun dan menyelesaikan tugas mata kuliah Botani Tumbuhan Rendah sesuai dengan jadwal. Shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw, beserta keluarga dan sahabat serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah beliau sampai hari kiamat.
Pembuatan makalah ini bertujuan antara lain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Botani Tumbuhan Rendah. Selain itu juga sebagai bahan untuk menambah wawasan penyusun.
Harapan penyusun pada makalah sederhana ini dapat berguna bagi pembaca sebagai bahan tambahan dalam proses belajar mengajar di dalam ruang kuliah dan lainnya. Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penyusun harapakan demi perbaikan makalah sederhana ini dan dalam pembuatan makalah kedepannya lagi. Akhir kata penyusun ucapkan Terimakasih.


Penyusun


DAFTAR ISI






BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Indonesia telah dikenal luas sebagai negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 Km. Didalam lautan terdapat bermacam-macam mahluk hidup baik berupa tumbuhan air maupun hewan air.Salah satu mahluk hidup yang tumbuh dan berkembang di laut adalah alga/ ganggang.Ganggang termasuk tumbuhan bertalus, tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati.Ganggang ada yang bersel satu dan bersel banyak, bersifat eukariotik, ada yang hidup melayang-layang (neustonik) dan ada yang di dasar air (bentik).Habitat di air tawar, air laut dan daerah-daerah yang lembab, reproduksi dilakukan dapat dilakukan secara seksual (konjugasi, anisogami, isogami) atau aseksual.
Dalam taksonomi yang banyak didukung para pakar biologi, alga tidak lagi dimasukkan dalam satu kelompok divisi atau kelas tersendiri, namun dipisah-pisahkan sesuai dengan fakta-fakta yang bermunculan saat ini. Dengan demikian alga bukanlah satu kelompok takson tersendiri. Dalam pustaka-pustaka lama, alga selalu gagal diusahakan masuk dalam satu kelompok, baik yang bersel satu maupun yang bersel banyak. Salah satu contohnya adalah pemisahan alga bersel satu (misalnya Euglena ke dalam Protozoa) dari alga bersel banyak (ke dalam Thallophyta). Belakangan disadari sepenuhnya bahwa pengelompokan sebagai satu klad tidak memungkinkan bagi semua alga, bahkan setelah dipisahkan berdasarkan organisasi selnya, karena sebagian alga bersel satu lebih dekat berkerabat dengan alga bersel banyak tertentu.Saat ini, alga hijau dimasukkan ke dalam kelompok (kelas) yang lebih berdekatan dengan semua tumbuhan fotosintetik (membentuk klad Viridiplantae). Alga merah merupakan kelompok tersendiri (Rhodophycophyta atau Rhodophyceae); demikian juga alga pirang (Phaeophycophyta atau Phaeophyceae) dan alga keemasan (Chrysophyceae).
Damlam makalah ini akan membahas mengenai bentuk, sifat, dan peranan algae serta dasar-dasar pengkasifikasiannya. Hal tersebut perlu di ketahui mengingat bahwa pentingnya pengetahuan tersebut untuk di ketahui dan di pahami.

B.       Rumusan Masalah

1.        Apa yang dimkasud dengan Kelas conjugatae.?
2.        Apa yang dimkasud dengan Kelas charophyceae.?
3.        Apa yang dimkasud dengan Kelas phaeophyceae.?
4.        Apa yang dimkasud dengan Kelas rhodophyceae.?

C.      Tujuan Penulisan

1.        Untuk mengetahui karakteristik dari Kelas conjugatae.
2.        Untuk mengetahui karakteristik dari Kelas charophyceae.
3.        Untuk mengetahui karakteristik dari Kelas phaeophyceae.
4.        Untuk mengetahui karakteristik dari Kelas rhodophyceae.

D.      Metode Penulisan

Metode yang digunakan, yaitu:
1.        Kepustakaan, dan
2.        Media Online


BAB II

PEMBAHASAN

A.           Kelas conjugatae (ganggang gandar)

Conjugatae adalah ganggang yang berwana hijau (mengandung klorofil a dan b), sel-selnya mempunyai satu inti dan dinding selnya dari selulosa. Conjugatae merupakan golongan ganggang dengan beranekarupa bentuk yang sebagian besar hidup di air tawar. Conjugatae dibedakan dalam dua bangsa, yaitu:
1.        Bangsa Desmidiales
Karene bentuknya beraneka rupa ganggang ini juga disebut ganggang hias, terutama hidup dalam rawa-rawa (gambut) yang airnya bereaksi asam. Sel-selnya ada berbentuk bulan sabit (closterium), atau di tengah-tengahnya berlekuk, sehingga mempunya bentuk seperti biskuit atau bintang, sehingga sel terdiri atas dua bagian yang setangkup (simetris) dengan di dalam tiap-tiap bagian itu suatu chloroplas yang besar dengan susunan yang rumit, mempunyai satu atau beberapa pirenoid. Di tengah-tengah sel terdapat satu inti.
Perkembang biakan terjadi secara:
a.    Aseksual, sel membagi di tengah-tengahnya, dan masing-masing bagian lalu menyempurnakan diri. Pada marga-marga tertentu sel-sel anak itu tetap berlekatan dan dengan demikian terbentuklah deretan sel-sel.
b.    Seksual dengan kopulasi, dua sel berdekatan lalu menyelubungi diri dengan lendir. Dinding dibagian tengah lalu membuka dan protoplas kedua sel itu bersatu di saluran kopulasi yang membesar dan terjadilah sebuah zigot, yang dindingnya berduri, hingga dengan ini mudah dikenal dan dibedakan dari sel biasa. Di samping zigot itu terdapat 4 belahan dinding sel yang berkopulasi. Pada perkecambahan terjadi pembelahan reduksi sehingga terbentuk 4 inti haploid yang bebas, dua kemudian mengalami degenerasi. Dengan demikian dari satu zigot paling banyak hanya dapat tumbuh dua individu baru.
Contoh spesies:
Klasifikasi Costerium  moniliforme
Kingdom    : Plantae
Divisi         : Charophyta
Class          : Zygnemophyceae
Ordo          : Desmidiales
Family        : Closteriaceae
Genus         : Closterium
Species       : Costerium  moniliforme
2.        Bangsa zygnema sp
Zygnema sp
Sel-selnya membentuk koloni berupa benang yang tidak bercabang. Dari golongan ini yang terkenal adalah jenis-jenis yang tegolong dalam marga Spirogyra. Koloni yang berbentuk benang selalu bertambah panjang karenan pembelahan sel secara vegetative. Dinding selny lunak, tidak berlubang-lubang, terdiri atas selulosa dengan selaput pektin, yang karena pembengkakan menjadi agak berlendir. Koloni-koloni ini pada dinding pemisah yang melintang dapat terputus-putus menjadi beberapa bagian, yang masing-masing dapat tumbuh menjadi koloni baru. Tiap sel mempunyai satu inti dan satu kloroplas bentuk pita yang melingkar seperti spiral dan menempel pada dinding sel dengan mengandung paranoid-piranoid.
Pada konjugasi dua koloni yang berlainan jenis kelaminnya lalu berdekatan dan sejajar satu sama lain. Pada tempat persentuhan antara dua sel lalu terbentuk penonjolan-penonjolan, sehingga kedua koloni itu sedikit berjauhan lagi. Karena terlalurnya dinsing persentuhan, tonjolan menjadi saluran kopulasi. Melalui tonjolan itu protoplas sel-sel pada benang yang jantan lalu bersifat sebagai gamet jantan dan masuk ke dalam sel-sel pada koloni betina. Peleburan kedua protopals itu lalu membulat dank arena kehilangan air sedikit mengecil dan menjadi suatu zigot dengan beberapa lapis dinding yang tebal berarna coklat, penuh bersisi dengan tepung dan minyak. Dalam zigot ini kloroplas yang berasal dari gamet jantan mengelami degenerasi. Pada perkecambahan, zigot mengadakan pembelahan reduksi, dan terbentuklah 4 inti haploid yang bebas. Satu diantaranya agak besar dan tetap, yang tiga lainnya yang lebih kecil mengalami degenerasi. Zigot berkecambah menjadi individu baru.
Kopulasi kedua gamet ini ada yang terjadi di tengah-tengah saluran kopulasi, sehingga zigot terdapat di antara kedua koloni yang mengadakan perkawinan, antara lain pada anggota-anggota marga mougeotia dan zygnemazygnema.

B.            Kelas charophyceae (characeae)  (ganggang karang)

Ganggan ini hanya terdiri atas beberapa marga saja. Selnya mempunya dinding selulosa, klorofil a dan b, dan zat tepung hasil asimilasi, dan merupakan zat makanan cadangan. Hidupnya di kolam atau selokan-selokan sebagai bentos. Talus berbuku-buku dengan ruas-ruas yang panjang dengan cabang yang tersusun dalam suatu karang. Pembiakan seksual dengan oogami. Oogonium diselubungi benang-benang yang melingkar-lingkar seperti spiral. Ateridium bergandeng-gandeng merupakan benang-benang dan tersusun dalam sebuah badan berbentuk peluru yang kosong.
Pada buku-bukunya tumbuh cabang-cabang pendek yang beruas-ruas, kadang-kadang juga cabang-cabang yang lebih pendek lagi pada buku-bukunya. Dari ketiak cabang-cabang pendek itu seringkali tumbuh cabang-cabang yang panjang yang susunannya sama dengan sumbu pokok.
Alat-alat pembiakan berupa anteridium bulat berwarna kekuning kuningan, dan oogonium berbentuk seperti telur berwarna hijau dan terdapat dalam ketiak cabang.
Anteridium berasal dari satu sel induk yang kemudian membelah-belah menjadi 8 sel, yang dinakam oktan. Tiap-tiap oktan lalu membentuk 2 dinding tangensial menjadi 3 sel, sehingga dengan ini terbentuk 24 sel. Delapan sel paling luar pipih, dinamakan sel-sel dindinh (pelindung), 8 sel di tengah-tengah dinamakn sel pemengang (manubrium), 8 lagi yang paling dalam dinamakan sel-sel pokok sel-sel dinding lalu membentuk tonjolan-tonjolan radial tidak sempurna, sehingga sel-sel itu terbagi-bagi dalam ruang-ruang yang terpisah-pisah tidak sempurna pula.  Sel-sel yang di tengah kemudian membentang ke arah radial. Karena sel dinding tumbuh meluas, dalam alat itu akan terjadi suatu ruangan dengan sel-sel pemegang dan sel-sel pokok di dalamnya. Sel-sel yang paling dalam lalu membuat 3-6 sel sekunder, dan dari sel-sel ini ditonjolkan 3-5 sel-sel benang spermatogen terdiri atas sel-sel bentuk cakram.
Dari setiap sel akhirnya keluar spermatozoid berbentuk spiral yang mempunyai satu bintik mata, kadang-kdang tenpa plastid dan mempunyai 2 bulu cambuk.
Oogonium mula-mula hanya mengandung satu sel telur saja yang penuh terisi dengan tetes-tetes minyak dan butir-butir tepung, kemudian oogonium itu diselubungi oleh 5 buluh yang terpilin seperti spiral. Ujung benang-benang selubung oogonium ini merupakan bentuk seperti mahkota, diantaranya terdapat celah jalan masuknya spermatozoid. Setelah selesai pembuahan, sel telur membentuk dinding yang tidak berwarna. Dinding benang-benang pembungkus yang sebelah dalam menebal, warna menjadi pirang, kadang-kadang diperkuat dengan kapur, sedangkan dinding luranya lenyap setelah buah itu jauh. Pada perkecambahan zigot terjadi pembelahan reduksi dan terjadilah 4 inti haploid. Dari 4 inti ini hanya tumbuh satu tumbuhan baru saja.

C.           Kelas phaeophyceae (ganggang pirang)